Ini hal yang harus diperhatikan para penyintas Covid-19 terkait long covid

By | March 25, 2021


Sehatdong.com – JAKARTA. Apakah Anda tahu? Para penderita Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh melalui hasil test PCR yang negativ memiliki risiko untuk mengalami long covid, yaitu kondisi di mana gejala Covid-19 yang dialami, tidak sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut, bisa berlangsung selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan sejak awal seseorang tertular virus covid-19.

“Biasanya kasus ringan akan sembuh 1-2 minggu sejak awal infeksi, namun pada long covid, keluhan atau gejalanya bisa dirasakan lebih dari 28 hari hingga berbulan-bulan,” ungkap dr. Putu Eka Prayastiti Kefani yang juga co-founder Komunitas Sadar Sehat, saat dihubungi Kontan, Rabu (24/3).

Dokter yang juga akrab disapa Fani ini mengungkapkan, ada ratusan gejala yang bisa dialami oleh para penderita long covid. Namun, gejala yang paling sering dilaporkan setelah 6 bulan dinyatakan sembuh adalah, kelelahan, malaise setelah beraktivitas, juga penurunan fungsi kognitif.

“Sangat bervariasi, ada 205 gejala yang dilaporkan pada 10 sistem organ tubuh kita. Jadi organ apa saja bisa kena, keluhan apa saja bisa muncul.  Ini berdasarkan penelitian terhadap  3.762 responden dari 56 negara lho ya,” terang Fani.

Baca Juga: Pergi ke tempat ini meningkatkan risiko infeksi virus corona

Namun, ungkap Fani, ada juga keluhan-keluhan yang cenderung tidak umum, tapi sangat mungkin dialami oleh para penyintas Covid-19. Antara lain, miokarditis (radang otot jantung), fungsi paru-paru abnormal, cedera ginjal, ruam, rambut rotok, masalah dengan indra penciuman dan pengecap, gangguan tidur, gangguan memori dan konsentrasi, kegelisahan, juga perubahan mood.

Fani mengatakan, hingga saat ini para ahli sendiri pun belum yakin, terkait apa yang sebenarnya menjadi faktor penyebab terjadinya long covid. Tapi, dia memaparkan sebenarnya ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi faktor penyebab dari long covid.

“Berkurang atau kurangnya respon dari sistem kekebalan, kambuh atau infeksi ulang virus, adanya proses inflamasi atau reaksi sistem imun, penurunan fungsi fisik akibat tirah baring atau tidak aktif dalam waktu lama saat sakit, juga stres pasca-trauma,”  jelas Fani.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *